Saat ini jarang sekali ditemukan orang yang memiliki hobi nge’break’. Bahkan mungkin mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan nge’break’. Istilah break sendiri sering digunakan oleh orang-orang yang hobi menggunakan radio amatir (di Indonesia sering dikenal dengan ORARI).
Radio amatir adalah radio pemancar dan penerima (sender and receiver) yang benar-benar hanya untuk hobi semata. Bukan untuk komersil. Penggunanya pun beragam. Mulai dari orang tua, anak muda, laki-laki, perempuan, suku Jawa, suku Sunda, dll. Penggunanya tidak terbatas di satu daerah saja.
Radio amatir tidak begitu saja bisa digunakan, melainkan harus memiliki lisensi. Lisensi tersebut didapat setelah kita mendaftar dan mengikuti prosedur-prosedur yang berlaku. Untuk mendapat lisensi, kita tidak harus berusia sekian tahun atau tinggal di daerah tertentu. Semua bisa mendapat lisense. Setelah itu, kita akan mendapat lisensi kita berupa kode panggilan. Contohnya: KC9XT, KB9ATR, N9IOX, N9LBT, dll.
Radio amatir tidak hanya sebagai sarana menyalurkan hobi saja. Dengan menggunakan radio amatir, kita bisa mendapat banyak teman, membentuk suatu komunitas, bahkan mencari jodoh (Hehehe). Setelah nge’break’, mungkin para breaker (ini bukan istilah resmi) bisa melakukan copy darat, alias bertemu. dan jika sudah bertemu, mereka bisa melanjutkan pertemanan mereka sambil jalan-jalan atau ngopi di Starbucks. Selain itu, dengan radio amatir, kita bisa meminta bantuan saat ada seseorang membutuhkan ambulance. Jika saat itu tidak ada telepon, kita bisa menggunakan radio amatir kita.
Sekarang, bagaimana nasib radio amatir? Matikah? Atau sedang sakaratul maut?
Banyak orang mengira radio amatir sudah mati akibat makin berkembangnya internet dan juga komunikasi GSM dan CDMA. Sebenarnya, komunitas radio amatir masih ada sampai saat ini. mereka masih ’setia’ dengan radio amatir. Bahkan mereka memanfaatkan internet untuk memperlancar penggunaan radio amatir tersebut.